Sunday, June 16, 2019
Home > Berita Hot > Bahkan Setelah Terdakwa, Taufik Kurniawan Masih Menjadi Wakil Ketua DPR

Bahkan Setelah Terdakwa, Taufik Kurniawan Masih Menjadi Wakil Ketua DPR

Berita harian

Taufik Kurniawan yang telah terjerat kasus suap kini telah menyandang status sebagai terdakwa. Mantan sekretaris jenderan PAN ini tengah menjalani persidangan pertama di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi atau Tipikor, Semarang, Jawa Tengah. Tapi walaupun dia telah dijerat oleh perkara suap ini, Taufik Kurniawan masih tetap menjabat sebagai wakil ketua DPR.

Bambang Soesatyo yang merupakan ketua DPR mengatakan bahwa kewenangan untuk menarik Taufik dari posisinya saat ini ada di PAN. Bambang juga menambahkan bahwa pimpinan DPR tidak mendorong PAN untuk mengganti Taufik. Bambang juga melanjutkan perkataannya, yaitu bahwa kasus yang telah menyeret Taufik ini tidak mengganggu kinerja DPR karena setiap anggota telah mendapat pembagian tugasnya masing-masing.

Walaupun demikian, Bambang Soesatyo alias Bamsoet ini enggan memberiakn komentar terhadap kasus hukum yang menjerat Taufik tersebut. Jasa penuntut umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, mendakwa bahwa Taufik telah menerima suap sebesar Rp 4,85 miliar. Orang yang memberikan suapnya ialah dua orang kepala daerah yang berasal dari Jawa Tengah.

Taufik Menyewa 3 Kamar Hotel Untuk Bisa Terima Suap

Dalam kasus suap yang kini menjerat Taufik, diketahui bahwa ia menyewa tiga buah kamar di sebuah hotel yang mana kamar itu saling terhubung satu sama lain. Hal ini terungkap pada sidang perdana pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor Semarang. Modus ini dilakukan oleh Taufik saat menerima uang dari Bupati Kebumen, yakni Yahya Fuad.

Taufik dan Yahya bertemu pada Februari 2016, Yahya meminta agar dirinya diperjuangkan dalam DAK 2016 dengan uang senilai Rp 100 miliar. Pertemuan mereka berlangsung hingga bulan Juni 2016. Terdakawa mengajukan sebuah sarat untuk memenuhi permintaan tersebut, yakni ia meminta fee 5% dari anggaran yang telah disetujui. Setelah Yahya memikirkan hal ini selama beberapa hari, ia pun setuju dengan persyaratan tersebut.

Taufik Alias Terdakwa Mengadakan Pertemuan Dengan Yahya di KFC

Rabu (20/3/2019), Jaksa KPK pada saat membaca dakwaan, PN Tipikor Semarang menuturkan bahwa, untuk bisa merealisasikan uang fee yang telah mereka sepakati, kira-kira pada awal Juli 2016, terdakwa mengadakan pertemuan dengan Yahya di sebuah restoran KFC. Tepatnya di jalan Sultan Agung Semarang. Dalam pertemuan tersebut, terdakwa menyampaikan suapaya uang fee yang 5% tersebut diberikan dengan 3 tahap.

Tahap tersebut, dimulai dari sepertiga total fee 5%, lalu minimal Rp 1,5 miliar, dan tahap terakhir paling lambat pada Oktober 2016. Kemudian, pada bulan Juli 2016 Taufik meminta agar fee diserahkan di Hotel Sugiyanto. Terdakwa memerintah Rachmad untuk memesan 3 kamar hotel. 3 kamar tersebut yaitu dua buah kamar bersebelahan dan satu kamar digunakan untuk mengawasi proses pemberian uang tersebut.

Yahya Meminta Hojin Ansori Menyediakan Rp 1,65 miliar

Yahya meminta agar pihak swasta Hojin Ansori menyediakan uang sejumlah Rp 1,65 miliar dan menyerahkannya kepada Rachmad pada 26 Juli 2016 di Hotel Gumaya tepatnya pada kamar 1211. Setelah itu Rachmad menyerahkan uang tersebut kepada Taufik alias terdakwa di kamar depannya. Selanjutnya Taufik menghubungi Yahya Fuad dan mengatakan bahwa uang telah diterima olehnya.

Penyerahan kedua terjadi pada 15 Agustus 2016. Adi Pandoyo yang telah diamanati oleh Yahya untuk menyerahkan Rp 2 miliar kepada terdakwa melalui Rachmad dengan cara yang sama, hanya saja kali ini dilakukan di kamar 815. Total uang suap yang diterima oleh terdakwa ialah Rp 4,85 miliar yang diterimanya dari Bupati Kebumen, Yahya dan Bupati Purbalingga, serta dari Tasdi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *