Sunday, January 20, 2019
Home > Uncategorized > Cara Menghadapi Pasangan Hidup Perfeksionis

Cara Menghadapi Pasangan Hidup Perfeksionis

Abu-abu – lain-lain : Sahabat Ummi, orang yang memiliki karakter perfeksionis, biasanya akan terlihat pada bagaimana dia mengerjakan sesuatu. Bukan sekadar mengerjakan, tapi orang yang perfeksionis juga akan berupaya agar apa yang dikerjakannya itu mencapai hasil yang sempurna, sesuai dengan standar yang dia tetapkan. Dia haus akan kesempurnaan, dan baginya kesempurnaan adalah sebuah keharusan.

Di satu sisi, menurut psikolog Inna Muthmainnah, S.Psi, Psi, hal ini ada nilai positifnya. Sebab, hasil yang diraihnya bagus, kerjanya baik. Namun, sisi lemahnya, karena terobsesi pada kesempurnaan ini, orang perfeksionis mudah cemas, frustrasi, dan stres ketika capaiannya itu tak memenuhi standarnya.

Terkait hubungannya dengan orang lain—mitra kerja atau pasangan—si perfeksionis juga tak segan mengkritik, mengatur, bahkan memaksa untuk dapat berbuat yang sama sesuai standar dia. Padahal, standar dan kinerja orang berbeda-beda. Inilah salah satu hal yang dapat menimbulkan friksi antara si perfeksionis dengan orang lain yang berbeda karakter.

Dalam pernikahan, suami atau istri yang memiliki pasangan perfeksionis pasti pernah mengalami perselisihan karena adanya perbedaan tersebut. “Orang perfeksionis tidak gampang puas, sering mengeluh, sering membandingkan sesuatu dengan standar-standar yang lebih tinggi atau hal-hal sebelumnya yang dia dapat,” jelas Inna, tentang ciri khas orang perfeksionis. Sehingga, apa yang dilakukan oleh pasangan, selalu saja ada salah di matanya, sementara si perfeksionis tak menyediakan ruang untuk salah. Akibatnya, muncul pertengkaran.

Menaklukkan Pasangan Perfeksionis

Mengubah karakter seseorang memang bukan perkara mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa diupayakan. Untuk membuat pasangan yang perfeksionis lebih longgar dengan standar dirinya, lebih fleksibel, dan sedikit lebih santai, awalilah dengan membicarakannya secara jujur dan terbuka. Cari waktu yang tepat, misalnya ketika suasana hatinya sedang baik, tidak dalam keadaan stres, sehingga tujuan komunikasi bisa tercapai.

Sebenarnya, apa pun karakter pasangan, tidak masalah. Asal, tegas Inna, masing-masing mau belajar untuk berubah lebih baik, mau menyesuaikan diri dengan karakter orang lain di sekitarnya. Artinya, selain kita belajar untuk lebih mengenal karakter pasangan, mengubah sikap-sikap yang tidak baik darinya, kita juga mesti menuntut diri sendiri untuk mampu menyesuaikan diri dan berpikir positif.

“Kita harus tetap menyikapi apa pun sikap orang dengan sikap yang positif. Mesti pintar-pintar mencari celah si perfeksionis ini agar sifat-sifat buruknya enggak keluar, dan kita pun bisa mengoptimalisasi sikap-sikap baiknya,” saran psikolog yang kerap menjadi narasumber di berbagai seminar keluarga ini.

Lalu bagaimana menghadapi pasangan yang perfeksionis? Inna menguraikannya berikut ini.

>> Beri apresiasi

Orang perfeksionis senang sekali diberi tanggung jawab, dia akan melakukannya dengan sebaik mungkin. Karena itu, apresiasilah hasil kerjanya. Jika tidak, dia akan kecewa, dan bisa membalas lebih.

>> Hati-hati memberi kritik

Perasaan orang perfeksionis peka. Maka, jika kita ingin mengkritiknya, harus hati-hati. Awali dengan mengapresiasinya, lalu gunakan perkataan yang halus saat memberinya kritik. Itu akan lebih nyaman untuk dia dan kita sendiri.

Orang perfeksionis selalu berusaha melakukan sesuatu secara sempurna dan tertata baik. Energinya habis untuk memperhatikan hal yang detail. Jadi, kita pun harus maklum bila dia sakit hati ketika pikiran atau tindakannya diremehkan dengan kata-kata yang membuat dia merasa tidak dihargai.

>> Tanyakan pendapat

Orang perfeksionis suka sekali mengatur. Dia mengatur orang lain melakukan ini itu, dalam standar dia, agar bisa mencapai tujuan atau hasil yang sempurna—lagi-lagi sesuai standar yang dia buat. Untuk mengatasinya, sering-seringlah meminta pendapat dia. Alih-alih menuntut atau langsung memutuskan sesuatu, cari tahu dulu pendapatnya. Misal, dalam hal memilih sekolah anak, tanyakan pendapat dia sebaiknya di mana, SDIT atau SD negeri. Biarkan dia mengeluarkan ide dan pendapatnya. Dia senang itu dan akan merasa dihargai.

Lalu, utarakan keinginan kita dalam bentuk pertanyaan untuk mengetahui pendapatnya. Contoh, “Kalau kita sekolahkan anak di sekolah negeri bagaimana, Mas?” Jadi, kita giring opininya. Orang perfeksionis bisa diajak kerja sama dan kompromi, asal dia dimintai pendapat dan jangan meremehkannya.

>> Minta bantuan

Orang perfeksionis selalu memikirkan dengan matang tindakannya, konsep yang dia rancang, apa pun, untuk bisa sesuai standar yang dibuatnya. Namun, jika standarnya sulit kita capai, jangan sungkan untuk meminta dia membantu. Selain tak keberatan, dia tidak akan menerapkan tuntutannya karena dia tahu kita berusaha untuk memenuhi kemauannya. Dari sinilah timbul perasaan menghargai. Terhadap pasangan, hal ini tentu bagus untuk kebaikan bersama.

Untuk menaklukkan si perfeksionis, pasangan harus lebih powerfull. “Orang yang perfeksionis juga ada sisi kelemahannya. Dia harus sadar, dia tidak bisa mengerjakan semua sendiri, mengandalkan diri sendiri, tapi juga butuh bantuan orang lain. Biasanya seiring dengan berjalannya waktu, dia akan menyadari bahwa dia butuh pasangannya.

Jika kita memiliki karakter perfeksionis, upayakan tetap berada dalam batas yang wajar. Bayangan akan kesempurnaan yang menghantui, bahkan sering kali tuntutannya terhadap diri sendiri tak masuk akal, ditambah lagi dia tidak mentolerir kegagalan, tentu akan merugikan diri. Perfeksionis dengan kadar ekstrem ini dapat mengganggu kesehatan. Emosi tinggi, kecemasan berlebih, stres, bahkan depresi mudah menderanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *